Selasa, 14 Desember 2021

Kenapa aku tak secantik mereka?

Kenapa aku ngga secantik mereka?

Kadang, aku benci mengakui bahwa aku iri pada perempuan-perempuan yang cantiknya ampun-ampunan. Benci karena artinya aku mengakui betapa pas-pasannya parasku. Aku membayangkan, sepertinya setengah masalahku akan selesai kalau aku terlahir sebagai perempuan secantik mereka. Kamu tahu sendiri, ada anekdot bahwa keadilan sosial hanya berlaku bagi warga yang good looking (baca: cakep). Apalagi di era visual seperti saat ini. Cantikmu menentukan nasibmu.

Sedih? Jelas. Tetapi, ada yang lebih menyedihkan lagi, menurutku. Aku sedih kalau ada orang yang berkata padaku, "Cantik itu relatif, kok."

 

Cantik itu Ngga Relatif

Sejak- gadis, aku ngga setuju dengan anggapan bahwa ukuran cantik itu relatif. Pada konteks bahwa standar cantik itu berbeda-beda di setiap kebudayaan, ya, aku setuju. Setiap budaya membangun standarnya sendiri berdasarkan keunikan masyarakatnya. Tetapi, dalam satu standar budaya yang sama, aku ngga sepakat dengan anggapan bahwa kecantikan itu relatif.

Di telingaku, kata-kata 'cantik itu relatif' terdengar hanya sebagai penghiburan pada wanita-wanita yang ngga cantik kayak aku. Seperti seorang pelayan yang berkata manis hanya untuk mendapatkan uang tip dari pengunjung restoran.

Meski begitu, aku tahu bahwa orang lain berkata demikian untuk membuat perempuan yang ngga cantik tetap percaya diri meski berada di antara perempuan-perempuan yang benar-benar cantik.

Kalau cantik itu relatif, kenapa iklan-iklan, acara olahraga, dan film-film masih menampilkan perempuan yang tinggi semampai, rambut panjang, kulit putih, badan langsing dan singset, hidung

 


Kita merasa eksklusif dibanding miliaran manusia lainnya

Diantarasapi-sapi putih-hitam. Kita jadi cenderung menonjolkan keunikan diri kita sendiri, lebih lagi media sosial memfasilitasinya.

Tanpa kita sadari, kita jadi memutuskan diri dari orang lain. Kita merasa eksklusif dibanding miliaran manusia lainnya.

Apa akibatnya? Kita jadi kehilangan perasaan senasib yang telah menghubungkan manusia sejak nenek moyang tinggal di gua untuk bertahan hidup. Kita jadi gagal melihat kesamaan-kesamaan yang justru menjadikan kita manusia yang sebenarnya. Ribet, ya? Sederhananya begini, kalau kamu lihat selebgram, mungkin kamu akan berpikir bahwa hidupnya sempurna. Berbeda dari manusia kebanyakan. Lalu, kamu luput melihat kesamaan-kesamaan antara kamu dan selebgram itu.

Kesamaan seperti apa? Ya, hal-hal mendasar tentang menjadi manusia. Misalnya, sama-sama makan, sama-sama kentut, dan sama-sama belekan kalau bangun tidur. Ada pula kesamaan-kesamaan psikologis seperti sama-sama pernah menangis karena sebuah kegagalan, sama-sama pernah meragukan diri sendiri, dan bisa sakit hati.

Semua kesamaan itu luput karena terlanjur ada dinding yang membatasi hidupmu dan selebgram itu. Dinding yg dibangun atas nama keunikan pribadi. Ironisnya, karena terlalu tinggi dinding itu justru membuat kita melupakan satu kesamaan yang paling mendasar antara kita, yaitu bahwa kita sama-sama manusia biasa

Instagram? Benar jadi sumber informasi atau sumber malapetaka?

Lalu, kamu jadi tersihir karena melihat orang-orang yang ada distry instagrammu. Digaleri fotomu,  Bermenit-menit kamu habiskan untuk menggulir  fotomu, mencari sesuatu yg seru untuk kamu jadikan konten. Namun, hasilnya nihil, kamu tutup galerimu, karena ga ada foto atau vidieomu yang seru. Pengalaman hidupmu gitu-gitu saja hm, engga ada yg layak untuk diceritakan, bikin opini? Hm, rasanya komentarku nggak bakl mengubah apa-apa, deh. Akhirnya, kamu pun menutup aplikasi Instagram dengan perasaan minder.

Aku pun sering mengalami hal yang sama. Melihat potongan menyenangkan dari hidup orang lain membuatku merasa seperti rambu-rambu larangan parkir di jalanan: Enggak dianggap penting dan diperhatikan.

Ada 24 jam waktu yang kumiliki dalam sehari, 7 hari dalam sepekan, dan 30 hari dalam sebulan. Masak enggak ada satu pun hal yang menarik untuk aku unggah di Instagram?

Di Instagram, kita cenderung buat selalu menunjukkan sisi keren dari hidup kita. Kenapa? Karena Instagram memang didesain untuk jadi tempat "pamer", untuk memberi sorotan pada bagianbagian penting dalam hidup kita. Tentu kecenderungan itu akan bebrbeda manakala instagram tidak punya fitur seperti photo filter, likes, share dan comment

Disana, kita bisa menjadi siapapun, berpura-pura menjadi apapun, menggunakan topeng siapapun, dan menunjukan berbagai sisi manapun yg kita inginkan. Di Instagram kita akan selalu menemukan sisi menarik dari hidup orang lain dan jarang melihat sisi lain darinya yang membosankan.


Kamis, 09 Desember 2021

Apa yang sebenarnya penting buat hidup kita?

Apa yang sebenarnya penting buat hidup kita? ketika kita ngga bisa menjawab pertanyaan ini, semua hal yang orang lain lakukan jadi terlihat penting dan butuh untuk hidup kita

Melihat orang lain sedang merintis bisnis, kita kepengin, Mendengar orang lain sekolah lagi, kita ikutan. Melihat orang lain menikah, kita pun kepincut. Masalahnya, kita hanya bermodalkan ikut-ikutan, bukan kebutuhan. Kita enggak memutuskannya dengan mendengar apa kata hati kita. Akhirnya, kita hanya melompat-lompat dari berbagai urusan yang enggak bisa kita selesaikan. Alih-alih merasa puas, kita justru akan terus merasa kurang. Lalu, kita menyalahkan orang lain atas ketidakpuasan kita.

Mengharapkan kesempurnaan?

Mengharapkan kesempurnaan di dunia ibarat mencari air minum di lautan. Ketika kita haus, hamparan air laut terlihat menjanjikan, padahal justru menenggelamkan. Ketika kitamenginginkan kesempurnaan, berbagai bentuk kesenangan duniaterlihat memberi harapan, padahal justru membahayakan.

Keinginan + Kepuasan = Ekstasi

Waktu kecil, aku pikir menjadi bahagia itu sederhana saja. Selama aku mendapatkan apa yang aku inginkan, hidupku akan bahagia. Nyatanya tidak demikian.

Keinginan ibarat ekstasi yang membuat tubuh kita meminta lebih banyak dan menjanjikan kepuasan yang lebih besar. Namun, yang kita dapatkan hanyalah tubuh yang rusak dan seujung kepuasan imajiner.

Sekarang aku sadar. Tak semua lapar bisa dikenyangkan dengan makan. Tak semua dahaga bisa ditandaskan dengan minum. Tak semuamiskin bisa dituntaskan dengan uang. Tak semua kosong bisa diisi dengan benda. Tak semua sunyi bisa dimeriahkan dengan bunyi. Tak semua penderitaan bisa diakhiri dengan kesenangan. Dan, tak semua keinginan bisa dipuaskan dengan kemenangan. Sering kali yang kita butuhkan hanyalah merasa cukup.

Hubungan yang dilandasi rasa takut

Hubungan yang dilandasi rasa takut hanya akan melahirkan ketakutan-ktakutan yang baru. Jadilah kita melihat orang-orang yang takut bertanya, takut salah,takut dibilang jelek, takut berkata jujur, bahkan takut untuk sekadar mengakui perasaannya sendiri. Penerimaan dan penilaian orang lain seperti menjadi hantu yang mengejar-ngejarnya. Jauh di dalam hatinya, ia lelah berlari. Sesekali ia menyendiri, membuka topengnya, dan menangis sejadi-jadinya. Namun, ia terlalu takut bahkan sekadar untuk menjadi manusia biasa sekalipun. Di titik ini, rasanya kita merasa berhak menyalahkan orangtua atas hidup kita yang tak kunjung mencapai kepuasan. Namun, coba kita pikir-pikir lagi, apakah itu salah mereka? Hidup tak pernah hitam putih. Agaknya, orangtua juga korban dari tuntutan tak kasat mata, yang tidak realistis, terhadap dirinya. Setelah menjadi orangtua, aku memahami bagaimana rasanya.


Menjadi orangtua di zaman modern artinya siap berhadapan dengan berbagai ketakutan. Takut miskin, takut gagal, takut kesepian, dan ketakutanketakutan irasional. Ketakutan melahirkan tuntuan 

Kenapa aku tak secantik mereka?

Kenapa aku ngga secantik mereka? Kadang, aku benci mengakui bahwa aku iri pada perempuan-perempuan yang cantiknya ampun-ampunan. Benci kar...