Kenapa aku ngga secantik mereka?
Kadang, aku benci mengakui bahwa aku iri pada perempuan-perempuan yang
cantiknya ampun-ampunan. Benci karena artinya aku mengakui betapa pas-pasannya parasku.
Aku membayangkan, sepertinya setengah masalahku akan selesai kalau aku terlahir
sebagai perempuan secantik mereka. Kamu tahu sendiri, ada anekdot bahwa
keadilan sosial hanya berlaku bagi warga yang good looking (baca: cakep).
Apalagi di era visual seperti saat ini. Cantikmu menentukan nasibmu.
Sedih? Jelas. Tetapi, ada yang lebih menyedihkan lagi, menurutku. Aku
sedih kalau ada orang yang berkata padaku, "Cantik itu relatif, kok."
Cantik itu Ngga Relatif
Sejak- gadis, aku ngga setuju dengan anggapan bahwa ukuran cantik itu
relatif. Pada konteks bahwa standar cantik itu berbeda-beda di setiap
kebudayaan, ya, aku setuju. Setiap budaya membangun standarnya sendiri
berdasarkan keunikan masyarakatnya. Tetapi, dalam satu standar budaya yang
sama, aku ngga sepakat dengan anggapan bahwa kecantikan itu relatif.
Di telingaku, kata-kata 'cantik itu relatif' terdengar hanya sebagai
penghiburan pada wanita-wanita yang ngga cantik kayak aku. Seperti seorang
pelayan yang berkata manis hanya untuk mendapatkan uang tip dari pengunjung
restoran.
Meski begitu, aku tahu bahwa orang lain berkata demikian untuk membuat
perempuan yang ngga cantik tetap percaya diri meski berada di antara
perempuan-perempuan yang benar-benar cantik.
Kalau cantik itu relatif, kenapa iklan-iklan, acara olahraga, dan
film-film masih menampilkan perempuan yang tinggi semampai, rambut panjang,
kulit putih, badan langsing dan singset, hidung