Selasa, 14 Desember 2021

Kita merasa eksklusif dibanding miliaran manusia lainnya

Diantarasapi-sapi putih-hitam. Kita jadi cenderung menonjolkan keunikan diri kita sendiri, lebih lagi media sosial memfasilitasinya.

Tanpa kita sadari, kita jadi memutuskan diri dari orang lain. Kita merasa eksklusif dibanding miliaran manusia lainnya.

Apa akibatnya? Kita jadi kehilangan perasaan senasib yang telah menghubungkan manusia sejak nenek moyang tinggal di gua untuk bertahan hidup. Kita jadi gagal melihat kesamaan-kesamaan yang justru menjadikan kita manusia yang sebenarnya. Ribet, ya? Sederhananya begini, kalau kamu lihat selebgram, mungkin kamu akan berpikir bahwa hidupnya sempurna. Berbeda dari manusia kebanyakan. Lalu, kamu luput melihat kesamaan-kesamaan antara kamu dan selebgram itu.

Kesamaan seperti apa? Ya, hal-hal mendasar tentang menjadi manusia. Misalnya, sama-sama makan, sama-sama kentut, dan sama-sama belekan kalau bangun tidur. Ada pula kesamaan-kesamaan psikologis seperti sama-sama pernah menangis karena sebuah kegagalan, sama-sama pernah meragukan diri sendiri, dan bisa sakit hati.

Semua kesamaan itu luput karena terlanjur ada dinding yang membatasi hidupmu dan selebgram itu. Dinding yg dibangun atas nama keunikan pribadi. Ironisnya, karena terlalu tinggi dinding itu justru membuat kita melupakan satu kesamaan yang paling mendasar antara kita, yaitu bahwa kita sama-sama manusia biasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kenapa aku tak secantik mereka?

Kenapa aku ngga secantik mereka? Kadang, aku benci mengakui bahwa aku iri pada perempuan-perempuan yang cantiknya ampun-ampunan. Benci kar...