Diantarasapi-sapi putih-hitam. Kita jadi cenderung menonjolkan keunikan diri kita sendiri, lebih lagi media sosial memfasilitasinya.
Tanpa
kita sadari, kita jadi memutuskan diri dari orang lain. Kita merasa eksklusif
dibanding miliaran manusia lainnya.
Apa
akibatnya? Kita jadi kehilangan perasaan senasib yang telah menghubungkan
manusia sejak nenek moyang tinggal di gua untuk bertahan hidup. Kita jadi gagal
melihat kesamaan-kesamaan yang justru menjadikan kita manusia yang sebenarnya.
Ribet, ya? Sederhananya begini, kalau kamu lihat selebgram, mungkin kamu akan
berpikir bahwa hidupnya sempurna. Berbeda dari manusia kebanyakan. Lalu, kamu
luput melihat kesamaan-kesamaan antara kamu dan selebgram itu.
Kesamaan
seperti apa? Ya, hal-hal mendasar tentang menjadi manusia. Misalnya, sama-sama
makan, sama-sama kentut, dan sama-sama belekan kalau bangun tidur. Ada pula
kesamaan-kesamaan psikologis seperti sama-sama pernah menangis karena sebuah
kegagalan, sama-sama pernah meragukan diri sendiri, dan bisa sakit hati.
Semua
kesamaan itu luput karena terlanjur ada dinding yang membatasi hidupmu dan
selebgram itu. Dinding yg dibangun atas nama keunikan pribadi. Ironisnya,
karena terlalu tinggi dinding itu justru membuat kita melupakan satu kesamaan
yang paling mendasar antara kita, yaitu bahwa kita sama-sama manusia biasa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar