Lalu, kamu jadi tersihir karena melihat orang-orang yang ada distry
instagrammu. Digaleri fotomu, Bermenit-menit kamu habiskan untuk
menggulir fotomu, mencari sesuatu yg seru untuk kamu jadikan konten.
Namun, hasilnya nihil, kamu tutup galerimu, karena ga ada foto atau vidieomu
yang seru. Pengalaman hidupmu gitu-gitu saja hm, engga ada yg layak untuk
diceritakan, bikin opini? Hm, rasanya komentarku nggak bakl mengubah apa-apa,
deh. Akhirnya, kamu pun menutup aplikasi Instagram dengan perasaan minder.
Aku pun sering mengalami hal yang sama. Melihat potongan menyenangkan
dari hidup orang lain membuatku merasa seperti rambu-rambu larangan parkir di
jalanan: Enggak dianggap penting dan diperhatikan.
Ada 24 jam waktu yang kumiliki dalam sehari, 7 hari dalam sepekan, dan
30 hari dalam sebulan. Masak enggak ada satu pun hal yang menarik untuk aku
unggah di Instagram?
Di Instagram, kita cenderung buat selalu menunjukkan sisi keren dari
hidup kita. Kenapa? Karena Instagram memang didesain untuk jadi tempat
"pamer", untuk memberi sorotan pada bagianbagian penting dalam hidup
kita. Tentu kecenderungan itu akan bebrbeda manakala instagram tidak punya
fitur seperti photo filter, likes, share dan comment
Disana, kita bisa menjadi siapapun, berpura-pura menjadi apapun,
menggunakan topeng siapapun, dan menunjukan berbagai sisi manapun yg kita
inginkan. Di Instagram kita akan selalu menemukan sisi menarik dari hidup orang
lain dan jarang melihat sisi lain darinya yang membosankan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar