Selasa, 14 Desember 2021

Instagram? Benar jadi sumber informasi atau sumber malapetaka?

Lalu, kamu jadi tersihir karena melihat orang-orang yang ada distry instagrammu. Digaleri fotomu,  Bermenit-menit kamu habiskan untuk menggulir  fotomu, mencari sesuatu yg seru untuk kamu jadikan konten. Namun, hasilnya nihil, kamu tutup galerimu, karena ga ada foto atau vidieomu yang seru. Pengalaman hidupmu gitu-gitu saja hm, engga ada yg layak untuk diceritakan, bikin opini? Hm, rasanya komentarku nggak bakl mengubah apa-apa, deh. Akhirnya, kamu pun menutup aplikasi Instagram dengan perasaan minder.

Aku pun sering mengalami hal yang sama. Melihat potongan menyenangkan dari hidup orang lain membuatku merasa seperti rambu-rambu larangan parkir di jalanan: Enggak dianggap penting dan diperhatikan.

Ada 24 jam waktu yang kumiliki dalam sehari, 7 hari dalam sepekan, dan 30 hari dalam sebulan. Masak enggak ada satu pun hal yang menarik untuk aku unggah di Instagram?

Di Instagram, kita cenderung buat selalu menunjukkan sisi keren dari hidup kita. Kenapa? Karena Instagram memang didesain untuk jadi tempat "pamer", untuk memberi sorotan pada bagianbagian penting dalam hidup kita. Tentu kecenderungan itu akan bebrbeda manakala instagram tidak punya fitur seperti photo filter, likes, share dan comment

Disana, kita bisa menjadi siapapun, berpura-pura menjadi apapun, menggunakan topeng siapapun, dan menunjukan berbagai sisi manapun yg kita inginkan. Di Instagram kita akan selalu menemukan sisi menarik dari hidup orang lain dan jarang melihat sisi lain darinya yang membosankan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kenapa aku tak secantik mereka?

Kenapa aku ngga secantik mereka? Kadang, aku benci mengakui bahwa aku iri pada perempuan-perempuan yang cantiknya ampun-ampunan. Benci kar...